26 Februari 2018

26 Februari 2018

KEBAHAGIAAN DAN KEKUDUSAN

Ibrani 12:14
“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”

Di Harvard University, Anda dapat mengambil kelas yang membahas kebahagiaan. Kelas populer ini menolong siswa untuk mengetahui, seperti kata sang dosen, “Cara agar Anda merasa bahagia.”

Itu bukan ide buruk. Sesungguhnya, dalam beberapa kesempatan Alkitab bahkan menyarankan pentingnya merasakan kebahagiaan atau sukacita. Salomo mengatakan bahwa kita punya hak istimewa untuk merasakan kebahagiaan yang diberikan Allah (Pkh. 3:12; 7:14; 11:9).

Meskipun begitu, terkadang kita terlalu berlebihan mencari kebahagiaan duniawi. Kita menganggapnya sebagai hal utama yang harus diraih, bahkan yakin bahwa kebahagiaan adalah tujuan utama Allah bagi kita. Lalu kita pun merasa bingung.

Firman Allah menyatakan bahwa kebahagiaan sejati dapat terwujud jika kita taat pada taurat Allah (Mzm. 1:1,2; Ams. 16:20; 29: 18). Allah menuntut kekudusan dan memanggil kita untuk menjalani hidup yang kudus, yang mencerminkan karakter moral-Nya (1 Tes. 4:7; 2 Ptr. 3:11). Dalam surat pertama Petrus kita membaca, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:15,16).

Pada saat kita harus membuat keputusan mengenai bagaimana kita harus bertindak atau bagaimana kita harus menjalani hidup, maka kita harus ingat bahwa perintah Allah bukan “Bersenang-senanglah”, melainkan “Jadilah kudus”. Sukacita sejati berasal dari hidup yang kudus dan menghormati Allah.

Dalam semua pikiran, ucapan, dan tindakanku,
Aku rindu, ya Allah, untuk menghormati-Mu;
Dan kiranya motivasiku yang terdalam
Adalah mengasihi Kristus yang rela berkurban.

TAK ADA KEBAHAGIAAN SEJATI YANG TERPISAH DARI KEKUDUSAN
DAN TAK ADA KEKUDUSAN YANG TERPISAH DARI KRISTUS

Selamat Beraktivitas
God Bless ❤

Leave a Reply